Kegiatan santri yang ada di Pesantren Mukmin Mandiri ini, di samping menghafal Al-Quran, santri juga diajari berwirausaha. Pesantren mewajibkan santri menghafal Al-Quran, minimal  juz amma (ayat-ayat pendek). Ada juga yang sudah menghafalkan Alquran sampai 20 juz, bahkan ada yang sudah hafal 30 juz Al-Quran. Yang lebih unik, pesantren ini mewajibkan santrinya belajar dan praktik berwirausaha. Wirausaha dalam usaha agrobisnis komoditas kopi. Pilihan wirausaha ini karena kopi merupakan bisnis yang prospektif. Meminum kopi sudah menjadi gaya (trand setter) hidup masyarakat Indonesia.

Persyaratan untuk menjadi santri di pesantren Mukmin Mandiri ini melalui proses ujian. Ujian membaca Al-Quran dan wawancara entrepreneurship (wirausaha). Jika sudah memenuhi kualifikasi, kemudian para calon santri masuk etape Condrodimuko (pengemblengan) di pesantren. Condrodimukonya dalam bentuk pelatihan entrepreneurship (teori) dan praktik wirausaha (produksi, marketing kopi dan managemen). Santri mengerjakan teori dan praktik secara bersamaan. Produk kopi dikelola dan di manage sendiri dengan bimbingan santri senior, termasuk mengelola keuangannya.

Ada beberapa metode kurikulum pesantren ini diajarkan untuk menghantarkan target pendidikan dan standarisasi pembelajaran. Sangat profesional dilakukan, kerena menekankan teori dan praktik. Volume kurikulumnya, 25 % teori dan 75 % praktik. Sungguh sangat langka model kurikulum pembelajaran ini. Perlakukuan pendidikan di pesantren ini berbeda dengan pesantren dan lembaga pendidikan lain pada umumnya.

marketing

Santri sedang memasarkan Kopi Mahkota Raja Blend Doa

Model yang dilakukan di pesantren ini: Pertama, membangun karakter berwirausaha. Karakter wirausaha harus dibentuk hingga melahirkan wawasan wirausahawan yang tangguh dan handal. Orang berdagang (berwirausaha) landasan utama adalah ibadah. Spirit berdagang terilhami dari Al-Quran, Sunah dan meneladani konsep dan pikiran  ulama salaf dan khalaf (modern) tentang konsep tijarah (perdagangan). Kedua, mengadakan pelatihan-pelatihan. Membekali secara teoritis kepada santri tentang ilmu marketing, akuntansi, management dan leadhersip. Ketiga, praktik wirausaha. Santri diajari mulai dari mengenal kopi, produksi kopi, membuat kemasan kopi, memasarkan kopi hingga pada managemen pengelolaan keuangan kopi. Pelatihan dan praktik dilakukan secara bersamaan dan berkesinambungan.

Rata-rata santri yang menetap di Pesantren ini adalah mahasiswa dari UIN Sunan Ampel, Universitas Sunan Giri, bahkan ada yang dari Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya. Pengaturan kerja dengan kuliah diatur secara demokratis dengn tanpa meninggal tanggung jawabnya sebagai santri entrepreneurship. Bisa membagi waktu praktik wirausaha dengan kuliah secara proporsional.

Rata-rata di pesantren pada umumnya santri yang membayar uang syariah pesantren. Tidak berlaku di pesantren ini, santri nyantri mendapatkan insentif (gaji) sesuai dengan porsinya.  Kondisi itulah yang membuat pesantren ini menarik. Lebih menarik lagi, santri di pesantren ini juga menghafalkan Al-Quran. Konsep fid dunnya khasan wa fil akhirati khasanah (bahagia di dunia dan akhirat) yang kita berdoa setiap saat waktu usai salat menjadi terjawab di pesantren ini.